Dalam situasi itulah Panglima Besar Jenderal Soedirman mengambil keputusan yang kemudian menjadi legenda sejarah. Meski menderita penyakit paru-paru yang serius dan harus ditandu, beliau memilih memimpin perang gerilya daripada menyerah kepada keadaan.
Namun ada pertanyaan yang jarang dibahas: bagaimana pasukan gerilya mampu bertahan berbulan-bulan di tengah hutan, pegunungan, dan keterbatasan logistik?
Jawabannya bukan semata-mata keberanian. *Jawabannya adalah pangan.*
Di berbagai daerah, rakyat membantu pasukan dengan apa yang mereka miliki. Ketika beras sulit diperoleh, singkong diolah menjadi oyek sebagai pengganti nasi. Dari desa ke desa, rakyat menjaga jalur logistik sederhana yang memungkinkan para pejuang tetap bertahan. Dalam keterbatasan yang nyaris total, lahirlah bentuk paling nyata dari ketahanan pangan nasional: kemampuan rakyat menyediakan makanan bagi perjuangan bangsa.













