Hari ini, banyak anak muda menghabiskan waktu lebih lama di media sosial dibandingkan membaca buku atau berdialog dengan keluarga. Mereka mendapatkan informasi, hiburan, bahkan referensi hidup dari konten-konten yang muncul di layar telepon genggam. Masalahnya, algoritma tidak bekerja berdasarkan kebenaran atau kebijaksanaan. Algoritma bekerja berdasarkan perhatian.
Semakin kontroversial sebuah konten, semakin besar peluangnya untuk muncul. Semakin sensasional sebuah informasi, semakin cepat ia menyebar. Tidak jarang berita palsu lebih cepat viral dibandingkan fakta yang sebenarnya. Akibatnya, ruang digital sering dipenuhi oleh kegaduhan, bukan pencerahan. Banyak orang bereaksi sebelum memahami. Banyak yang membagikan informasi sebelum memverifikasi. Banyak yang merasa paling benar tanpa pernah mau mendengar pandangan yang berbeda. Di sinilah Pancasila memiliki relevansi yang luar biasa. Pancasila mengajarkan bahwa manusia tidak boleh menjadi budak teknologi. Sebaliknya, teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.













