Oleh: M.R. Mualimin
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Pernahkah Anda merasa penat membaca linimasa media sosial saban pagi? Ada politisi yang saling sikut, korupsi yang seolah tak pernah absen, hingga warga internet (warganet) yang saling hujat hanya gara-gara beda pilihan. Di pojok warung kopi, seorang bapak paruh baya menyeruput kopinya lalu mengeluh, “Kenapa ya, orang zaman sekarang kok gampang banget marah dan rasanya makin sulit cari keadilan?”
Pertanyaan sederhana itu sebenarnya menjangkau kedalaman krisis yang sedang kita hadapi. Kita sering membanggakan Pancasila sebagai jimat sakti, namun dalam keseharian, ia sering kali terperangkap menjadi sebatas slogan kaku di dinding kelas. Di sinilah gagasan Yudian Wahyudi, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), menemukan urgensinya: Pancasila harus direaktualisasiādihidupkan kembali agar membumi dan relevan dengan dinamika kehidupan modern yang serba cepat ini.
Namun, bagaimana cara memasukkan nilai-nilai Pancasila itu ke dalam nadi kehidupan masyarakat kekinian?
Mari kita bedah dengan melihat bagaimana intuisi moral kita bekerja. Psikolog Jonathan Haidt dalam bukunya The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion (New York: Pantheon Books, 2012, hlm. 125) menjelaskan bahwa manusia dibekali pondasi moral bawaan, yaitu kepedulian (care), kebebasan (liberty), keadilan (fairness), loyalitas (loyalty), otoritas (authority), dan kesucian (sanctity). Sayangnya, di media sosial hari ini, intuisi moral ini sering kali diadu domba. Kita mendahulukan loyalitas kelompok di atas keadilan, atau menuntut kebebasan tanpa menghormati nilai bersama. Reaktualisasi Pancasila ala Yudian Wahyudi hadir sebagai kompas untuk menyelaraskan kembali keenam pondasi moral Haidt tersebut agar tidak saling menerjang.
Akan tetapi, pondasi moral saja tidak cukup jika jiwa masyarakatnya rapuh. Martin Seligman, pelopor psikologi positif, dalam bukunya Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfillment (New York: Free Press, 2002, hlm. 133) menegaskan pentingnya enam kekuatan karakter (character strengths): spiritualitas (spirituality and transcendence), kemanusiaan (love and humanity), keberanian (courage), kesederhanaan (temperance), kebijaksanaan (wisdom), dan keadilan (justice). Pancasila yang direaktualisasikan bekerja layaknya sarana bagi kebahagiaan autentik ini. Ketika seorang warga bertindak jujur dan berani membela tetangganya yang tertindas, ia sedang menghidupkan Sila Kedua dan Ketiga sekaligus merawat kekuatan karakter dalam dirinya.
Selanjutnya, bagaimana moral dan karakter ini mewujud dalam struktur masyarakat? Yudi Latif dalam karyanya Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014, hlm. 42) memetakan arsitektur kebangsaan ke dalam tiga ranah peradaban: pertama, tata nilai mental-kultural (pembentukan karakter dan etika; kedua, tata kelola institusi sosial-politik (demokrasi yang adil dan beradab); serta ketiga,tata sejahtera perekonomian (keadilan sosial bagi seluruh rakyat).
Ketiga ranah Yudi Latif ini adalah wadah nyata tempat gagasan Yudian Wahyudi diuji. Reaktualisasi Pancasila tidak boleh berhenti pada ranah mental-kultural melalui sosialisasi formal semata. Ia harus merembes ke ranah sosial-politik dalam bentuk kebijakan publik yang bersih, serta hadir di ranah perekonomian guna memastikan dapur warga tetap ngebul dan ketimpangan sosial terkurangi.
Pada akhirnya, Pancasila bukanlah dokumen sejarah yang berdebu. Ia adalah kompas hidup yang dinamis. Ketika intuisi moral (Haidt) dan kebahagiaan jiwa (Seligman) dipadukan dengan penataan tiga ranah peradaban (Yudi Latif), maka gagasan reaktualisasi dari Yudian Wahyudi bukan lagi sekadar wacana elit, melainkan menjadi nafas bersama untuk merawat rumah besar bernama Indonesia.***
Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga.













