Untuk urusan percetakan di Cikarang, kami ingin audit yang tuntas dan objektif. Maka kami menyewa konsultan dari Kanada, dengan standar bayaran dolar. Kami ingin pemeriksaan berlangasung profesional. Datanglah bule ahli Kanada itu ke Indonedia dan memeriksa percetakan di Cikarang. Ketika pertama kali konsultan dari Kanada bekerja, Pak Bekti dan saya ikut meninjau ke percetakan di Cikarang. Betapa kagetnya kami, konsultan itu memulai kerjanya bukan dari memeriksa mesin, tetapi justeru dari hilirnya: kemana pembuanga limbah percetakan? Setelah itu barulah ke bagian hulunya, memeriksa besi-besi mesin dan mesinnya sendiri. Kesimpilan mereka : kami tak direkomendasi mengambil alih percetakan ini sebagai mesin percetakan.
Mulai dari sana negosisasi dengan Pos Kota Group tersendat, dan akhirnya tak jadi dilaksanakan tanpa pembatalan. Hasil ini saat itu telah saya sampaikan juga kepada pihak BNI. Setelah itu saya tak tahu lagi bagaimana kelanjutannya penanganan Pos Kota Group di BNI, sampai saya mendengar kabar Pak Tahar wafat dan ada lapor melapor ke polisi antara anggota dan pengurus koperasi karyawan Pos Kota sebagai salah satu pemegang saham Pos Kota Group.













