Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Ada yang janggal ketika kita melihat bagaimana piring-piring makan bergizi disajikan ke meja anak-anak sekolah hari ini. Di atas kertas, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah narasi kebangsaan yang sungguh memesona: investasi sumber daya manusia demi memetik bonus demografi 2045. Namun, begitu tirai anggaran dibuka, janji manis itu mendadak menjelma menjadi polemik tata kelola yang membikin dahi berkerut.
Persoalan utama MBG sejatinya bukan pada apakah anak-anak kita butuh asupan gizi—tentu saja mereka butuh. Masalahnya ada pada bagaimana negara mengeksekusinya. Menyedot ratusan triliun rupiah dari APBN tanpa desain fiskal yang presisi bak melemparkan uang ke dalam ruang hampa. Ada risiko riil terjadinya “efek kerumunan” (crowding-out effect), di mana anggaran krusial untuk perbaikan kualitas guru, sarana sekolah, hingga fasilitas kesehatan dasar terancam tergerus demi membiayai katering massal ini.













