Ditambah lagi, dikotomi akut antara ilmu agama dan sains masih dipelihara. Upaya integrasi-interkoneksi ilmu yang diklaim telah berjalan, dinilai hanya menyentuh kulit luar, gagal menyentuh akar epistemologi.
“Solusinya adalah pemulihan paradigma tauhid melalui scientia sacra. Menempatkan keesaan Tuhan sebagai pusat seluruh cabang pengetahuan,” tegasnya.
Ia mengecam cara pandang pragmatis yang menilai filsafat hanya dari kacamata pasar kerja. Baginya, filsafat adalah tulang punggung peradaban berpikir.
“Filsafat mestinya bukan sekadar pelajaran, tetapi bangunan dari setiap kurikulum fakultas dan prodi di seluruh Indonesia,” katanya.
Tamparan Soal Akreditasi Unggul
Pernyataan senada namun lebih menohok datang dari perwakilan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Munir, M.A.Ia menegaskan, di era kecerdasan buatan (AI), filsafat Islam justru semakin relevan sebagai penjaga moralitas dan spiritualitas. Teknologi tanpa etika hanya akan menjadi bencana.Namun Dr. Munir juga menampar internal pengelola Prodi AFI dengan fakta pahit soal akreditasi.













