Di hadapan 58 peserta dari 25 Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam se-Indonesia, Ketua Umum ASAFI, Prof. Kholid Al Walid, melontarkan kegelisahan yang selama ini menjadi bisu: pendidikan Islam Indonesia ramai secara kuantitas, namun krisis secara kualitas nalar.
Ia menyoroti ironi ribuan madrasah dan pesantren dengan jutaan santri yang justru gagal melahirkan kembali sosok ilmuwan Muslim kaliber dunia seperti Al-Ghazali, Ibn Sina, atau Al-Biruni.
“Mengapa pendidikan Islam kita yang begitu luas dan ramai, tidak lagi melahirkan Al-Ghazali, Ibn Sina, atau Al-Biruni yang baru? Ini pertanyaan yang terus saya ajukan pada diri sendiri,” ujar Kholid.
Akar Masalah: Filsafat Dicabut dari Kurikulum
Menurut Prof. Kholid, jawaban dari kegagalan itu ada pada matinya nalar filsafat. Pengajaran logika dan filsafat yang dulu menjadi jantung peradaban Islam, kini justru tercabut dari kurikulum madrasah dan pesantren.













