Indonesia memang negara rawan bencana. Tapi banyak kerusakan yang terjadi hari ini bukan soal geologi atau cuaca ekstrem. Banyak yang sebenarnya lebih dekat pada apa yang disebut para ahli sebagai bencana sosial-ekologis, bencana yang lahir dari pertemuan antara alam yang rentan dengan keputusan manusia yang serampangan. Kita hidup di negeri yang indah, tetapi juga di negeri yang sering lupa bahwa keindahan itu rapuh.
Alam Tidak Pernah Tiba-Tiba Marah
Sebenarnya, alam tidak pernah benar-benar ‘mengamuk’. Yang sering terjadi adalah alam hanya kembali bekerja sesuai aturannya, aturan yang kita langgar pelan-pelan dan bertahun-tahun. Air mengalir ke tempat yang dulu dia datangi. Tanah bergerak ketika ia kehilangan akar yang dulu menahannya. Api menyebar ketika hutan kehilangan kelembapannya. Dan udara memanas ketika pepohonan bernilai lebih sedikit dibandingkan tambang atau kebun industri.Kita sering menyebut sebagai ‘musibah’, atau ‘bencana’ padahl bukan kejadian mendadak. Al-Qur’an telah mengisyaratkan :“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan manusia.”(QS. Ar-Rum: 41). Para ilmuwan modern mengatakannya dengan bahasa berbeda, tetapi intinya sama, kerusakan ekologi hari ini lebih banyak disebabkan oleh keputusan manusia.











