KAB. BANDUNG || bedanews.com — Pedagang camilan jenis seblak mengeluhkan kelangkaan minyak goreng. Karena usaha kecil-kecilan yang dilakukan sebagian warga untuk menambah menambah kebutuhan keluarga terpaksa harus dihentikan.
Salah seorang pedagang seblak, Ani (35), warga Soreang, mengatakan, dampak kelangkaan minyak goreng sudah sangat terasa sekali. Ia terpaksa menghentikan usahanya sebagai pedagang seblak.
“Selain langka, kalau pun ada harganya cukup mahal bagi kami yang memperoleh laba tak seberapa,” katanya di Soreang, Jum’at 18 Pebruari 2022.
Selain Ani, pedagang gorengan pun terancam gulung tikar. Dengan alasan yang sama, Mimin, tak bisa lagi memproduksi gorengan bala-bala, gehu, cireng, dan comro.
Mimin yang merupakan seorang isteri dari suami pekerja harian di sebuah pabrik itu, menjelaskan, dari hasil penjualan aneka gorengan ia bisa membantu suaminya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Karena langka, apa boleh buat saya hentikan dulu produksi gorengannya,” ujar Mimin.***













