Mempercayakan kepemimpinan RRI kepada Dr. Abdulrachman Saleh dan merumuskan prinsip kejuangan yang kemudian dikenal sebagai Tr Prasetya RRI.
Republik Mikrofon Pendaratan sekutu diboncengi tentara Belanda, menimbulkan pertempuran di mana-mana. Di Surabaya, Bung Tomo berapi-api membakar semangat rakyat melalui mikrofon RRI. RRI menghibur para pejuang dengan lagu-lagu perjuangan. Konsolidasi perlawanan rakyat tidak lepas dari peran RRI di mana-mana, bahu membahu dengan Tentara Republik Indonesia yang kemudian jadi Tentara Nasional Indonesia. Lokasi pemancar RRI selalu menjadi sasaran bom musuh.
Pemancar lalu diamankan ke pelosok-pelosok agar siaran bisa tetap berlangsung. Keterlibatan RRI sebagai radio perjuangan meninggalkan berbagai monumen sejarah, antara lain monumen Radio Kambing di Desa Balong, Surakarta.













