Di Surabaya, naskah proklamasi disiarkan oleh Supeno dalam bahasa Madura. Bahasa daerah ini untuk mengelabui Kempetai.
Dalam sekejap, berita itu tersiar ke seluruh penjuru tanah air dan dunia. Semuanya melalui mikrofon radio.
Itulah embrio Radio Republik Indonesia (RRI) yang berperan mengindonesiakan rakyat yang pra-Indonesia menjadi Indonesia yang satu. Peran sejarah ini tak terhapuskan, menjadi salah satu modalitas RRI yang tidak dimiliki oleh media lain manapun.
Kelahiran RRI
Tiga minggu kemudian, para broadcaster eks Hoso Kyoku dari berbagai kota di pulau Jawa berkumpul di Jakarta. Tercatat nama-nama: Adang Kadarusman, Jusuf Ronodipoero – Jakarta, Sakti Alamsjah, R.A. Darja – Bandung, R.M. Soemarmadi -Yogyakarta, R. Maladi – Surakarta, Soehardi – Semarang, dan Soetardjo – Purwokerto. 11 September 1945 pukul 12 malam, mereka berapat di rumah Adang Kadarusman di Jalan Menteng Kecil, menyepakati pembentukan RRI Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya dan Malang.













