“Ini tidak hanya menyimpang dari prinsip akademis, tetapi juga tidak memungkinkan adanya inisiatif dari luar kelompok. Jika ada perbedaan yang datang dari bawah dipandang sebagai penentangan terhadap otoritas kelompok yang menjadi atasan, bahkan terancam diberi sanksi,” jelasnya.
Menurutnya, sikap dan perbuatan para elite kelompok lebih mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompok daripada persoalan yang dihadapi masyarakat akademis, sehingga sulit orang-orang di kelompok itu berada di tengah-tengah masyarakat kampus.
“Menurut saya, untuk rektor ke depan lebih baik di-dropp oleh pusat (Kemenag RI, red). Dengan harapan bisa meminimalisasi atau menghindari lingkungan yang sudah materialistik dan koruptif, juga sifat permisif terhadap penyimpangan yang telah menurunkan wibawa kampus,” harapnya.













