Dijelaskan, Rektor itu bukan seorang manajer yang menganggap kampus sebagai “perusahaan”, melainkan sebagai pemimpin yang memiliki kemampuan untuk berjalan bersama-sama dengan sivitas akademika menuju tujuan bersama, sebagaimana yang dikehendaki oleh para pendiri/pendahulu UIN SGD. Sosok rektor seperti ini akan bisa terpenuhi apabila digali dari tengah-tengah masyarakat kampus secara bebas dan terbuka.
“Jangan harap Rektor bisa memimpin kalau dia punya jarak dengan yang dipimpinnya, lalu memelihara sikap dan perbuatannya yang mengakibatkan jarak di antara bawahannya,” katanya.
Narasumber lain menduga, calon-calon yang dimunculkan atau yang diajukan lebih besar loyalitasnya kepada kelompoknya daripada komitmennya kepada masyarakat kampus. Mereka lebih memperlihatkan identitas kelompoknya daripada identitas akademik. Kelompok HMI dan PMII, kata dia, dalam praktiknya disinyalir masih authoritarian dimana kewenangannya menjadi referensi dalam setiap pengambilan keputusan.













