Ditambahkannya, di Jakarta, dalam pengaturan Lalu Lintas harusnya sudah berorientasi dengan demand responsive, maksudnya sistem traffic signal harus responsif terhadap kondisi lalu lintas yang ada dan terintergrasi ke semua simpang disekitar. “Teknologi AI yang diklaim ini pun perlu dijelaskan, teknologi AI apa yang dipakai dan menggunakan logika apa sehingga para akademisi dan pelaku transportasi memahami,” jelas Dr Budi Yulianto.
Penerapan teknologi AI Traffic Light pada sistem ATCS ini, kabarnya telah
diterapkan semenjak bulan Februari tahun ini, namun sayangnya, sampai bulan Mei ini masih belum terlihat apakah mampu mengurai atau bahkan menurunkan kemacetan di DKI Jakarta, bahkan tidak ada informasi atau berita terkait perkembangan proyek ini. Padahal teknologi yang digunakan ini merupakan teknologi tinggi yang diadaptasi dari negara-negara maju dan kemungkinan tentunya anggaran yang dikeluarkan tidaklah murah.













