Menurutnya, untuk mengantisipasi hal tersebut, sejumlah cara telah dilakukan pemerintah dalam hal ini melalui Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta untuk menekan kemacetan lalu lintas mulai dari penerapan peraturan ganjil genap, rencana penutupan 27 titik putar balik hingga wacana pemberlakuan jalan berbayar elektronik (ERP). Dan, salah satunya yang terbaru, yaitu pemasangan sistem ATCS (Area Traffic Control System) atau sistem pengendalian lalu lintas berbasis teknologi informasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) melalui optimasi dan koordinasi pengaturan lampu lalu lintas di setiap persimpangan.
“Saat ini, dari 321 simpang yang ada di DKI Jakarta, sebanyak 162 simpang telah menggunakan sistem ATCS generasi sebelumnya dan setidaknya ada 20 simpang yang telah menggunakan teknologi AI Traffic Light. Beberapa simpang yang dipilih pun merupakan titik-titik krusial yang sering terjadi kemacetan panjang akibat padatnya kendaraan di antrian lampu lalu lintas. Salah satunya pada persimpangan di Gunung Sahari – Martadinata, simpang Gunung Sahari – Underpass Angkasa, simpang Hayam Wuruk/Gajah Mada – Sawah Besar dan simpang Harmoni. Simpang yang terpasang teknologi terbaru ini pun dapat terlihat bagi para pengguna jalan, yaitu terdapat tiang dan kamera, antara 20-50 meter sebelum masing-masing kaki simpang,” imbuhnya.













