Menteri Luar Negeri Iran, dalam pernyataan resmi yang sangat tajam, tidak hanya membantah, tetapi juga membalik serangan. Beliau menyatakan bahwa Indonesia tidak usah mencampuri bangsa Iran. Lebih dari itu, beliau menyindir bahwa Presiden Prabowo adalah “*pecundang Amerika dan Israel.”*
Saya tidak akan mengomentari kebenaran atau ketidakbenaran sindiran tersebut. Namun, sebagai mantan praktisi diplomasi militer di PBB, saya harus mengatakan: *setelah pernyataan dan balasan ini terjadi, pintu mediasi untuk Indonesia tertutup rapat.*
Bayangkan, bagaimana mungkin Indonesia duduk sebagai mediator yang adil sementara Menteri Luar Negeri salah satu pihak yang bertikai telah menyebut kepala negara kita sebagai pecundang? Tidak mungkin.













