Di sisi lain, ada jenis penghormatan yang lahir dari dorongan yang sama sekali berbeda: perintah Tuhan. Dalam norma keagamaan, menghargai sesama manusia adalah sebuah kewajiban transendental yang tak memandang bobot dompet atau pangkat di pundak. Namun, dalam praktiknya di lapangan, penghormatan atas dasar keimanan ini sering kali terdistorsi. Banyak orang sibuk tampil saleh dan menghormati sesama hanya saat berada di dalam rumah ibadah, namun mendadak lupa begitu melangkah ke ruang publik. Penghormatan ritualis sering kali berhenti sebagai bentuk kepatuhan formalitas belaka, tanpa meresap menjadi kesadaran etis yang nyata.
Sebagaimana dicatat oleh Erich Fromm dalam To Have or to Be? (New York, Continuum, 1976, hlm. 68), ketika masyarakat terjebak dalam modus “memiliki” (having), martabat seorang manusia tidak lagi diukur dari kualitas kebaikan atau kesalehannya, melainkan dari apa yang ia miliki dan duduki. Akibatnya, penghormatan atas dasar perintah Tuhan sering kali kalah pamor dibandingkan penghormatan atas dasar kalkulasi materi. Penghormatan kepada pejabat memberi insentif instan yang nyata di dunia, sedangkan menghormati orang biasa atas dasar perintah Tuhan menuntut ketulusan moral yang tak selalu menghasilkan keuntungan kasat mata.













