Pemandangan seperti ini tentu bukan hal asing di tengah masyarakat kita. Ada dorongan mekanis dalam realitas sosial yang membuat orang begitu mudah menundukkan punggung di hadapan kekayaan dan jabatan. Fenomena ini tercermin jelas dalam pemikiran sosiolog Bourdieu dalam Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (Cambridge, Harvard University Press, 1984, hlm. 241), yang menjelaskan bahwa modal ekonomi dan modal simbolik—seperti status jabatan—memiliki daya paksa yang kuat untuk menciptakan dominasi serta kepatuhan sosial secara spontan. Orang menghormati kekayaan bukan selalu karena rasa kagum yang tulus, melainkan sering kali karena dorongan pragmatis: berharap mendapatkan remah-remah keuntungan atau setidaknya merasa aman dari jangkauan kekuasaan.













