Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Tambakberas, Jombang, bukan sekadar hajatan rutin lima tahunan. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh kebingungan, pilihan sosok yang akan menduduki posisi Rais ‘Aam Syuriah dan Ketua Umum Tanfidziah PBNU menjadi titik krusial. NU membutuhkan kombinasi kepemimpinan yang kokoh secara spiritual sekaligus lincah merespons dinamika zaman.
Syuriah sebagai pengarah navigasi spiritual memerlukan sosok Rais ‘Aam yang memadukan kealiman mendalam dan ketenangan jiwa. Figur seperti K.H. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) atau kiai-kiai sepuh berkedalaman ilmu serupa kerap menjadi teladan ideal. Dalam tradisi keilmuan Islam, peran kepemimpinan spiritual ini digambarkan oleh Abu al-Hasan al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sultaniyyah (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1990, hlm. 15) sebagai penjaga agama (hirasat al-din) sekaligus pengelola kemaslahatan publik. Rais ‘Aam tidak hanya harus menguasai literatur klasik, tetapi juga memiliki kepekaan rasa untuk menjaga agar jam’iyah tidak terbawa arus politik praktis yang merugikan.













