“Selain itu Jawa Barat juga mempunyai jejak historis keberkaitan dengan gerakan radikal di era 1942-1962 yang menamakan diri DII/TII yang dikomandoi Marijan Kartosuwiryo,” kata Jenni.
Dijelaskannya, jejak fisik barangkali sudah tidak kelihatan dan telah diatasi, namun benih ideologis yang masih tumbuh dari kelompok ini yang perlu diwaspadai. Berbagai upaya pendekatan perlu dilakukan untuk memberi pencerahan dan penguatan tentang keberagaman (Bhinneka Tunggal Ika) demi penguatan Pancasila ideologi yang merekatkan kita sebagai bangsa.
Menurut Jenni, Provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk terbesar juga menghadapi tantangan masa kini yang tak kalah serius terutama di bidang intoleransi dan radilisme. Berbagai survei menempatkan Jawa Barat sebagai provinsi dengan indeks toleransi rendah.











