Kedua, perusahaan harus melihat buruh sebagai mitra, bukan biaya produksi. Dalam Islam, kerja adalah bagian dari ibadah dan martabat manusia, bukan sekadar komoditas.
Ketiga, gerakan buruh sendiri perlu bertransformasi: dari sekadar mobilisasi massa menjadi gerakan intelektual. Aksi jalanan penting, tetapi tanpa basis gagasan dan data, ia mudah kehilangan arah.
May Day, dalam perspektif Nabi, seharusnya bukan sekadar hari tuntutan, melainkan momentum muhasabah kolektif: apakah relasi kerja kita sudah adil? Jika belum, maka persoalannya bukan pada kurangnya aksi, tetapi pada absennya etika.
Di tengah hiruk-pikuk demonstrasi, mungkin yang paling radikal justru satu hal sederhana: membayar upah tepat waktu—dan memperlakukan manusia sebagai manusia. ***













