Dalam konteks ini, saya tidak akan bicara secara tekstual yang lengkap dengan dalil-dalil naqliyahnya, tetapi lebih pada dimensi dakwah kultural, sosial dan spiritualitas secara kontekstual.
Pembacaan Al barzanji secara efektif menjadi media dakwah islamiah yang akulturatif dan rekonsiliatif. Banyak Islam abangan (meminjam istilah antropolog Amerika, Clifford Geertz) yang menjadi “santri” melalui media kondangan/hajatan yang diisi acara pembacaan Al barzanji dan atau masuk jamaah majlis ta’lim yang mentradisikan pembacaan Al barzanji. Demikian pula sebagai kawasan yang mayoritas non Nahdliyyin, banyak orang Muhamadiyah, bahkan salafi, misalnya, yang asyik larut dalam tradisi tersebut. Praktis tidak ada diskursus tentang bid’ah dan sebagainya.













