Suguhan jaburan (Jawa), teh dan kopi serta udud melengkapi kemeriahan bacaan Al barzanji. Tidak ada tausiah atau wejangan suci, sebaliknya mereka mengobrol bebas merdeka penuh canda tawa. Semuanya puas, semuanya merasa terbebas dari beban di pundaknya.
*Sarat makna*
Ketika saya beranjak dewasa, saya tersadar, bahwa pembacaan Al barzanji setiap bulan rabiul awal, yang oleh budayawan kontemporer disebutnya sebagai prosa, tidak sekedar rutinitas tradisi ritual, tetapi sarat makna pesan spiritual yang agung dan kompleks dimensinya. Tidak sekedar berdendang dan suguhan jaburan, melainkan memiliki makna filosofis yang selalu relevan dengan zaman.
Saya sekarang tinggal di Solo Raya, yang mayoritas warganya tidak pengamal pembacaan Al barzanji/dziba/Burdah, khususnya pada bulan rabiul awal. Meski demikian, di kawasan ini ada tradisi yang sangat populer dan familiar, yaitu perayaan gerebek maulid, yang dipusatkan di area alun alun Keraton Kasunanan Surakarta.













