Lenyapnya Junnah Air Mata Tertumpah Sia-Sia
Tepat satu abad. Siksaan demi siksaan, jeritan, tangisan serta berlepasnya nyawa tanpa hak dialami jutaan kaum muslim di penjuru dunia. Rasa pilu dan sesak yang menyelinap dalam linangan air mata hanya mampu dilakukan muslim lainnya. Bukan tak ingin membela, namun saat raga tak ada penjaga, penguasa tak punya asa keinginan itu hanya sekedar angan dalam jiwa muslim lainnya.
Tepat satu abad. Kaum muslim di beberapa negara mencukupkan diri dengan hukum ibadah, sementara muslim lainnya dipaksa meninggalkan akidah dan ibadahnya, merasakan ketakutan, kelaparan, pengusiran, penganiayaan serta perampasan harta dan kehormatan.
Tepat satu abad. Berjuta muslim di belahan dunia tak paham hukum jihad, hudud, sistem pemerintahan Islam, pengelolaan keuangan negara, perlindungan militer, industri pertahanan, sementara saudaranya di belahan bumi lainnya butuh pasukan militer, butuh ketegasan sanksi atas pembantainya, butuh keamanan serta kenyamanan saat nyawa mereka diujung tanduk. Padahal itu semua adalah hukum Allah dalam rangka menjaga agama, akal, keturunan, harta dan jiwa kaum muslim dimana pun mereka berada. Namun, tanpa junnah hukum Allah hanya sebatas teori bahkan direndahkan oleh pengusung undang-undang kolonial.











