SosokTNI-POLRI

Legenda Sangkuriang di Sektor 7 Citarum Harum

Kolonel Kav. Purwadi Sang Legenda Sangkuriang di Sektor 7 Citarum Harum

(Oleh: Siti Sundari)

Sangkuriang adalah legenda cerita di Jawa Barat. Dia ingin sekali menikahi Dayang Sumbi, ibunya. Karena Dayang Sumbi tahu Sangkuriang adalah anaknya, maka Dayang Sumbi memberinya syarat yang berat dan tidak masuk akal, agar tidak bisa dinikahi. Ia minta dibuatkan danau besar dengan membendung Sungai Citarum dan dibuatkan kapal besar yang harus selesai dalam waktu sehari semalam sebelum ayam berkokok. 

Karena kesaktiannya, Sangkuriang pun menyanggupinya. Dayang Sumbi tak mengira Sangkuriang sanggup menyelesaikannya begitu cepat dan sepertinya akan selesai sebelum ayam berkokok. Maka diakalilah oleh Sang Ibu dengan membuat ayam berkokok dan membangunkan penduduk seolah malam sudah berakhir dan hari sudah  pagi. Sangkuriang yang merasa kerja kerasnya sia-sia, akhirnya kecewa dan marah sehingga ditendangnya kapal yang dibuatnya sampai melayang dan jatuh tertelungkup seperti perahu yang sekarang dikenal sebagai Gunung Tangkuban Perahu. 

Begitulah cerita legenda Sangkuriang dengan Citarum. Kini sejarah Citarum kembali berulang walau berbeda zaman dan orang. Kalau Sangkuriang membuat danau dengan membendung Sungai Citarum, Kolonel Kav. Purwadi, Dansektor 7 Citarum Harum membuatCitarum kembali bersih. Tugas yang diembannya tidaklah ringan dan mudah. Perintah Pangdam III Siliwangi kepada para Dansektor, “Kembalikan Citarum kembali  harum. 7 tahun harus selesai dan berhasil!”

Berpacu dengan waktu, seperti Sangkuriang, Purwadi pun tak membiarkan waktu terbuang. Bersama tim Satgasnya bekerja siang malam tanpa mengenal lelah, ragu dan bimbang. Di tengah pandemi yang kian meradang, pohon-pohon ditanam di lahan kritis nan gersang. Gunungan sampah disulap jadi taman-taman yang indah dan sedap dipandang. 

Bangunan liar di atas bantaran, sudah lenyap dari pandangan. Sebagai gantinya adalah pohon-pohon cemara dan flamboyan. Melalui inspeksi mendadak, pengintaian dan patroli sungai, ditemukan pabrik-pabrik yang membuang limbah sembarangan. Semua pelanggaran diproses sesuai aturan dan arahan pimpinan. Bila dengan teguran masih membangkang, dilanjutkan dengan sangsi administratif, pembekuan izin dengan pengecoran lubang-lubang siluman.

Purwadi lah Dansektor pertama yang melakukan pengecoran terhadap pabrik yang membuang limbah sembarangan. Pernah dalam 1 hari melakukan 25 kali pengecoran lubang limbah untuk menunjukkan bahwa Satgas Citarum Harum amat cocern, tidak menerima sogokan karena demi kelanjutan kehidupan di masa depan.

Baca Juga  Yani Asmawinata Aktivis Organisasi dengan Segudang Prestasi

Begitulah sepak terjang Dansektor 7, Kolonel Kavaleri Purwadi. Tindakannya tegas tanpa kenal kompromi. Kepiawaiannya dalam berdiplomasi dan berargumentasi, baik dengan pelaku industri, maupun pemilik bangunan liar yang menjadikannya sarang prostitusi, tak diragukan lagi.

Ada catatan yang bisa ditulis dengan tinta emas untuk prestasi Dansektor 7 dalam proses penertiban bangunan liar. 

“Anda melanggar nih membangun di bantaran Citarum. Ini harus dibongkar karena melanggar peraturan dan undang-undang.” ujar Purwadi kepada salah seorang pemilik bangunan. 

“Mana bisa. Kalau dibongkar Bapak harus bayar ganti rugi 117 juta rupiah kepada Saya,” tuntut pemilik bangunan menantang.  

“Ok boleh nanti saya bayar. Kalau itu tuntutan Anda ayo kita berhitung. Ini tanah negara. Anda membangun di sini tanpa izin dan tanpa membayar sewa. Sudah berapa tahun Anda tinggal dan bisnis di sini. Dan sudah berapa rupiah Anda meraih keuntungan. Kalau dihitung bayar pajak dan bayar sewa selama Anda tinggal disini, maka Anda harusnya membayar 200 juta rupiah. Sekarang ganti rugi 117 juta rupiah sebagaimana yang Anda minta kita bayar. Tapi Anda pun harus bayar sewa dan pajak tanah ini 200 juta. Dan 83 juta kekurangannya harus dibayar kepada kami (pemerintah). Bagaimana? Kalau Anda bersikukuh tidak mau dibongkar dan bersikukuh menuntut ganti rugi, Anda akan dijerat  pasal hukum perdata dan pidana. Bangunannya pun akan tetap kami bongkar. Dan Anda harus masuk penjara dan membayar denda,” jawab Purwadi melakukan serangan balik beradu argumen dengan pemilik bangunan yang  menjadikan bangunannya sebagai bisnis mesum. 

Akhirnya sang pemilik diam tak berkutik, memilih jalan damai dan membongkar sendiri bangunannya. Dan itu juga yang dilakukan oleh 578 pemilik bangunan liar lainnya di atas bantaran Citarum. Melakukan pembongkaran sendiri. Sungguh itu prestasi luar biasa. Jadi upaya pembongkaran berjalan lancar tanpa keluar biaya sedikit pun.

Baca Juga  Seskoad Sambut Tim Wasrik Itjenad

Menjadi Dansektor memang bukan hanya harus cakap memimpin perang dalam arti yang sebenarnya, tapi juga punya kepiawaian adu argumentasi dalam upaya mencapai suatu misi. Masyarakat umum tahu, entah sudah berapa lama Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung berusaha membongkar bangunan liar di sepanjang bantaran Citarum. Namun usahanya selalu menemui jalan buntu. Gagal lagi gagal lagi. Pembongkaran paksa dengan mengerahkan Satpol PP pun dihadang perlawanan masyarakat dengan parang siap ditangan. Akhirnya bangunan liar itu tetap berdiri bahkan kian banyak jumlahnya tanpa terusik. 

Memang, menjalankan misi program Citarum Harum dalam prakteknya tidak lah mudah. Nyawa dipertaruhkan, tak jarang menghadapi ancaman. Kadang dari pelaku industri yang merasa terusik dan tidak nyaman, maupun barisan preman yang kehilangan penghasilan.

Sebagai komandan sikapnya tegas, dengan Tim Satgas yang jumlahnya kian terbatas, namun wilayahnya masih tetap luas. Perwira dari satuan kavaleri ini bekerja cepat dan menyelesaikan masalah dengan tuntas. Jangan sampai  target 7 tahun Sungai Citarum yang sudah kembali bersih jadi kandas. Arahan pimpinan, seperti penggunaan BIOS 44 untuk penanaman pohon dan budidaya ikan dilaksanakan cepat dan tangkas. Walhasil, pencapaian yang didapat pun membuat orang berdecak kagum dan puas. 

Menginjak tahun ketiga program Citarum Harum berjalan, banyak karya dan hasil yang sudah dipersembahkan oleh Staf ahli Pangdam III Siliwangi ini. Pelaku industri sudah menggunakan IPAL (Instalasi Pembuangan Air Limbah) dalam membuang limbah cairnya yang dulu sembunyi-sembunyi. Desa-desa yang lokasinya semula jadi gunungan sampah akibat prilaku masyarakat yang tidak peduli, disulap jadi taman-taman indah dan asri. Taman-taman itu dijadikan masyarakat sebagai tempat bermain, belajar dan olahraga yang berkembang jadi tempat wisata dan menghibur diri.

Seperti legenda Sangkuriang, taman-taman itu dibuat dalam jangka waktu yang singkat dan menghiasi beberapa desa. Tak sedikit orang yang melihat tak percaya. Wakil Bupati Bandung, Gun Gun Gunawan berkata, “Dulu tak bisa kebayang tempat sampah, kumuh, kok bisa hasilnya seperti ini. Tentara memang luar biasa”. Hasil kerja Dansektor 7 bukanlah legenda. Tapi ini benar-benar nyata. 

Baca Juga  Polwan Berprestasi, AKBP Dr. Rani Wahyoe Prasanti, Sp.Pd, Tiap Hari Bergelut Dengan Covid-19

Wilayah kerja sektor 7 yang meliputi 14 desa, dan 4 kecamatan, banyak sudah taman-taman dibuat dan sudah tersebar di beberapa desa. Ada taman Sangkan Hurip, Taman Dayeuh Kolot, Taman Pasawahan, Taman Pangauban, Taman Suka Mukti, Taman Cangkuang Wetan dan Taman Sangkuriang di Rancamanyar. 

Dengan demikian, satu demi satu benang kusut permasalahan yang membelit Citarum berhasil diurai dan dipecahkan. Citarum kian bersih dan elok. Dan terus dipersolek dengan pepohonan yang kelak setelah 7 tahun kian tinggi menjulang menghiasi pinggiran sungainya.

Keberhasilan ini, sebaiknya tak cukup diacungi jempol saja. Air sungai Citarum, anak sungai, cucu cicit sungainya yang sudah bersih, jangan dicemari lagi. Taman-tamannya, pohon dan tanamannya, perlu dijaga dan dipelihara bersama oleh seluruh lapisan masyarakat bersama pemerintah daerah. Jangan sampai perjuangan tentara di Program Sungai Citarum  Harum ini yang dalam waktu singkat  hasilnya signifikan jadi sia-sia. 

Sebagai prajurit sejati Kolonel Purwadi bersama Satgasnya memang tak mengharapkan balasan apa-apa. Semua dilakukan demi bangsa dan negara baik di masa perang maupun masa bukan perang. Mereka semua mempersembahkan karya terbaiknya. Tentara selalu bersama rakyat. Siliwangi adalah rakyat dan rakyat adalah Siliwangi. Karyanya dalam merevitalisasi Sungai Citarum kembali harum, akan abadi dan melegenda diceritakan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, seperti halnya cerita legenda Sangkuriang. 

Syair puisi ini, mungkin mewakili sosok seorang Kolonel Purwadi sebagai Dansektor 7 Citarum Harum. 

Purwadi dan Citarum Harum

Program Citarum  Harum memang  tidaklah mudah,

Upaya merevitalisasi untuk menjadikan Citarum kembali indah,

Rencananya dengan target 7 tahun selesai sudah

Walau dihadapkan dengan  peliknya masalah

Apapun dilakukan tanpa kenal menyerah 

Di tengah pandemi yang kian mewabah tetap bekerjan tanpa berkeluh kesah

Itulah Dansektor 7, seperti Sangkuriang,  berhasil membuat taman-taman, penghijauan di bantaran, sehingga dalam waktu singkat, Sungai Citarum kembali jernih, bersih dari limbah.***

Tags
Back to top button
Close
Close