Mencintai Demak hari ini sering kali disalahartikan sebagai dorongan untuk selalu memuji program pemerintah. Jika kita mengkritik, kita dicap tidak bangga pada daerah sendiri. Padahal, sejarah membuktikan sebaliknya. Dalam khazanah pemikiran Islam klasik, Ibn Taimiyyah dalam Siyāsah al-Syar’iyyah (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1988, hlm. 45) mengingatkan bahwa kepemimpinan adalah amanah untuk menjaga kelangsungan hidup publik, bukan sekadar memajukan proyek fisik. Mengkritisi kebijakan yang ugal-ugalan bukanlah bentuk kebencian, melainkan manifestasi cinta paling jujur.
Secara ilmiah, musibah di pesisir Demak bukan sekadar takdir alam semata, melainkan buah dari anthropogenic climate change dan kelalaian tata ruang. Anthony Giddens dalam bukunya The Politics of Climate Change (Polity Press, Cambridge, 2009, hlm. 112) menekankan pentingnya convergent politics, yaitu kebijakan pemerintah yang menyatu langsung dengan kebutuhan riil warga terdampak, bukan sekadar memindahkan masalah. Pembangunan infrastruktur penahan rob sering kali terlambat dan sporadis, sementara izin ekspansi industri skala besar di kawasan rawan resapan air terus meluncur tanpa kendala.













