Oleh: Muhammad Rofik Mualimin
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Setiap kali saya pulang ke Demak, aroma garam tidak lagi datang dari angin pantai yang segar, melainkan dari genangan air keruh yang mengepung halaman rumah warga. Di Sayung, Sriwulan, hingga daerah pesisir lainnya, jalanan beton yang baru setahun ditinggikan kembali ditelan rob. Anak-anak berangkat sekolah melintasi genangan air setinggi lutut, sementara para orang tua menatap lantai rumah yang kian hari kian tenggelam.
Ada pameo menggelitik di kalangan anak muda pesisir hari ini: “Cara paling cepat punya rumah dua lantai di Demak adalah tinggal diam dan biarkan air laut meninggikan lantai pertama Anda.” Candaan pahit ini lahir bukan karena warga kehilangan rasa humor, melainkan bentuk pertahanan diri di tengah janji-janji manis pembangunan yang kerap kali tidak pro-warga.













