Bahlil pikir dengan jabatan Menteri ESDM, maka otomatis dia bisa meraih gelar doktor dengan mudah atau ada kompensansi.
Dari tahun akademik saja sudah keliru. Belum lagi kemampuan bahasa asingnya (bahasa Inggris) kacau balau baru ijasah S1 dan S2 diduga tak terdaftar dipangkalan DIKTI.
Ada banyak pelanggaran akademik, maka dewan guru besar UI sangat profesional dalam menangani kasus Bahlil.
Barangkali kalau Jokowi masih Presiden, saya pastikan gelar Bahlil tak akan dibekukan atau disertasinya aman walau scopus-nya aneh dan dipublikasikan pun dijurnal yang aneh juga.
Saya sebagai dosen yang pernah ngajar di sejumlah kampus, maka saya yakin Bahlil tak akan mampu menulis disertasi selain copy paste tulisan orang. Tesis (S2) saja barangkali dia tak mampu menulisnya apalagi disertasi. Sudah Bahlil, Presiden Prabowo saja tak ada embel-embel doktor padahal dia orang cerdas dan kuliah disejumlah kampus ternama di luar negeri.












