Pendidikan

Kursi Rektor UIN Bandung Mulai Panas

Bandung,BEDAnews

Kursi Rektor Universitas Islam Negeri (UIN)  Sunan Gunung Djati Bandung mulai ‘panas’. Pasalnya, tahun ini (2015) akan digelar pemilihan rektor. Berbagi wacana dan bisik-bisik tetangga  tentang siapa orang  yang layak dan pantas  menjabat rektor kedepan mulai diperbincangkan, baik di warung kopi, pelataran parkir, maupun dibalik stir roda empat.

Namun, sejumlah nama sudah mulai di sebut-sebut publik kampus. Mereka itu yang  dianggap layak dan memenuhi syarat  secara administrtif. Begitu juga dengan pengalaman baik karir structural maupun akademis. Civitas kampus berharap rektor kedepan bisa membawa perubahan kearah yang lebih baik diberbagai aspek.

Hasil investigasi dilapangan  ada 12 nama yang layak dan memenuhi syarat dan dikabarkan siap bertarung untuk menjadi orang nomer satu dikampus hijau ini. Nama-nama tersebut, ada yang terang-terangan siap maju, ada juga yang ‘malu-malu kucing’ untuk mengungkapkan ambisi politiknya  yakni   Prof.Dr.Deddy Ismatulloh (patahana), Prof.Dr.Endin Nasrudin, Prof.Dr.Adang Hambali, Prof.Dr.Asep Muhyiddin, Prof.Dr.Oyo Sunaryo Muhlas, Prof.Dr. Rosihon Anwar, Prof.Dr.Muhtar Solihin, Prof.Dr.Ali Ramdhani,  Prof..Dr.Moh Najib, Prof.Dr.Asep Saepul Muhtadi (Samuh),  Prof.Dr Mahmud, dan  Prof.Dr. Agus Salim Mansur.

Tetapi, publik  kampus memprediksi Prof.Deddy Ismatulloh masih punya peluang besar untuk menjabat untuk kedua kalinya. Disamping Prof.Deddy punya pengalaman memimpin (patahana), ia juga, punya strategi jetu untuk menjalankan mesin politiknya.

Bagi Prof Deddy, dunia politik dan akademis sudah dari bagian hidupnya,Makanya, tak heran ia punya jaringan kuat  baik tingkat local maupun nasional.

Begitu juga Prof. Agus Salim Mansur bisa mulus menjadi rektor karena punya jaringan cukup solid baik di tingkat senat maupun diluar. Malah, dikabarkan Prof. Agus punya jurus  “Gerakan Tanpa Bola” membuat  rival politik terkejut dan tak berdaya, terbukti dengan pemilihan rektor yang lalu, bisa meraup suara yang cukup signifikan.

Wajib diperhitungkan juga Prof Samuh, (jika menggunkan statuta lama) dia bisa maju dan menjadikan  lawan politiknya bisa miris dan ketar – ketir  karena dukungan suara begitu kuat ditingkat senat, terbukti juga dengan suara sangat signipikan  pada suksesi rektor yang lalu.Diapun sangat mungkin dan terbuka lebar melenggang jadi ‘Imam’ di kampus biru ini.

 Tak kalah penting  dengan Prof. Ali Ramdhani yang diam-diam tanpa diduga bisa menjadi kuda hitam, meski, ia dari segi usia relative muda dan minim pengalaman di dunia politik, namun, layak diperhitungkan,sebab,ia disebut-sebut  punya trah, dan darah penerus kakeknya (K H.Musaddad, pendiri  IAIN Bandung, UIN sekarang-red ).

 Harus ingat juga dengan Prof.Mahmud yang bisa membuat peta politik kampus berubah, ia tidak bisa dipandang sebelah mata, punya kesempatan besar  menjadi rektor, dan salah satu  nama yang sering menjadi buah bibir publik kampus, karena kinerja,dedikasi dan integritas di dunia pendidikan. Bahkan, pengamat kampus menjagokan dia   bisa  mendapat dukungan dan suara tinggi di senat .

Ada juga Prof.Endin Nasruddin (mantan Pembantu rektor III ) yang cukup lihai juga dalam strategi permainan politiknya, ia sangat piawai dalam melakukan pendekatan dan lobi-lobi politiknya, kadang membuat publik tercengang dan kaget dengan sepak terjangnya yang begitu rapi dan apik. Bagi ia didunia ini tidak ada yang tidak mungkin, selama bisa berjuang dan berkarya dan Tuhan menghendaki.

Tak lupa Prof.Adang Hambali, tidak boleh dianggap sepele, meski ia gagal dalam pemilihan rektor yang lalu, tapi, ia punya triek dan strategi tersendiri untuk memenangkan suksesi rektor nanti

Menurut  Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Prof. Dr.Oyo Sunaryo muhlas, untuk pemilihan rektor tahun ini tinggal menghitung bulan saja, tetapi, karena statuta yang baru tentang aturan suksesi rektor belum disahkan menteri, publik kampus masih menunggu, termasuk orang-orang yang memenuhi syarat  dan layak untuk maju, sekarang mereka masih tiarap saja.

“Kan, sekarang statutanya masih draf dan belum diteken pak menteri, kita menunggu saja, kalau  berkaca kepada UIN yang lain dalam pemilihan rektor ketika masih  menggunkan statuta yang lama, maka, dan pemenangnya tidak bisa dilantik, itu yang menjadi persoalan,” ujar Prof Oyo. Kepada para wartawan belum lama ini.

Ketika ditanya tentang kesiapannya mencalonkan jadi rektor, Prof oyopun terlihat malu-malu dan hanya tersnyum tanpa kata yang terucap, seakan ia mengiyaratkan sesuatu harapan yang terpendam.

Sementara Prof Samuh, sudah mengisyaratkan akan maju lagi di suksesi rektor itupun kalau aturannya masih menggunakan statuta yang lama,” semua orang punya kesempatan yang sama ketika orang tersebut layak dan memenuhi syarat secara aturan, tapi, kalau ada aturan lain yang membungkan kebebasan demokrasi kampus itu tanda sudah mengalami kemunduran jauh kebelakang,” ungkapnya.

Ahmad (18) mahasiswa fakultas Ushuluddin beharap rektor UIN terpilh nanti bisa membawa kemajuan dan perubahan besar baik local, nasional maupun internasional.serta  tidak menjadikan kampus jadi komuditi politik tapi harus membangun iklim  akademik yang kondusif.(Harry Gibrant)

 

Baca Juga  Pungutan-Pungutan Di SMK/SMA Harus Jelas Aturannya

 

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close
Close