Lalu, apa maksud Jokowi “ngajegang” pada dua posisi itu? Alasan yang paling mengemuka adalah harapan adanya keberlanjutan program-program Jokowi yang belum tuntas. Seperti pembangunan infra struktur, khususnya proyek Ibukota Nusantara.
Sebagian pengamat mencurigai, langkah dua kaki itu dipasang sebagai cara Jokowi untuk melindungi dirinya pasca turun dari kursi kepresidenan. Bila yang menjadi presiden berikutnya adalah bukan orangnya, maka bisa jadi dia malah akan berurusan dengan hukum.
Lha, bukankah dengan memasang dua kaki itu malah bisa memecah suara dan dukungan? Alih-alih berharap dengan mendukung kedua poros itu, dan salah satunya terpilih lalu bisa melanjutkan program dan melindunginya dari perkara hukum, malah menjadi bumerang.
Typikal pendukung Prabowo itu mirip dan hampir sama dengan pendukung Ganjar. Keduanya memiliki ceruk dan basis yang serupa. Bukankah dengan begitu, malah akan memecah suara, sehingga bisa tiji tibeh, mati siji mati kabeh?













