Prosa pemikiran Yudi Latif mengingatkan kita bahwa Pancasila dan tradisi keilmuan kita tidak dirancang sekadar untuk dihapal di ruang kelas atau dijadikannya hiasan dinding instansi. Nalar ilmiah menuntut kita untuk selalu kritis, berbasis bukti, dan jujur pada kenyataan. Sementara nalar etis mengarahkan pengetahuan tersebut agar selalu berpihak pada kemanusiaan, keadilan, dan kebaikan bersama.
Ketika nalar ilmiah dan nalar etis menyatu, seorang ilmuwan atau profesional tidak hanya bertanya “apakah hal ini bisa dibuat?”, tetapi juga “apakah hal ini patut dan bermanfaat bagi banyak orang?”.
Menata kembali moral dan cara berpikir kita yang nyaris terkikis memang bukan pekerjaan satu malam. Ini adalah ikhtiar harian yang dimulai dari hal-hal terkecil: mau berhenti sejenak menyebar berita yang belum pasti kebenarannya, bersedia mendengarkan orang lain yang berbeda pandangan dengan tenggang rasa, serta menaruh kepedulian nyata pada lingkungan sekitar.













