Kondisi riskan inilah yang ditangkap dengan amat jernih oleh cendekiawan Yudi Latif. Dalam karyanya bertajuk Wawasan Pancasila: Bintang Penuntun untuk Pembudayaan yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan di Bandung pada tahun 2018 (khususnya pada halaman 142 hingga 155), ia membedah bagaimana bangsa ini membutuhkan perpaduan yang utuh antara nalar etis dan nalar ilmiah. Menurutnya, ilmu pengetahuan tanpa pondasi etika hanya akan melahirkan kecerdasan yang dingin dan manipulatif. Sebaliknya, ikhtiar moral tanpa pijakan nalar ilmiah yang terukur hanya akan berhenti menjadi jargon atau slogan kosong belaka.
Jika kita menengok ruang publik kita belakangan ini, ketimpangan itu kian nyata. Di satu sisi, nalar ilmiah kerap diabaikan. Berita bohong, asumsi tanpa data, dan perdebatan emosional lebih cepat menyebar dibanding fakta yang sudah diuji secara obyektif. Masyarakat kita begitu mudah terprovokasi oleh potongan video pendek tanpa pernah memverifikasi kebenarannya. Di sisi lain, ketika kecerdasan teknologis meningkat, nalar etis justru sering kali tertinggal di belakang. Banyak orang pintar secara akademis, namun tumpul nuraninya saat dihadapkan pada ketidakadilan sosial, penderitaan sesama, atau kerusakan lingkungan di sekitarnya.













