CIMAHI, BEDAnews
“Di pinggir-pinggir jalan di kolong-kolong jembatan tersimpan harapan senyum dan air mata meski selalu terlupakan di tengah debu jalanan di antara sombongnya kota yang penuh kebosanan”. Sebait lirik lagu itu meluncur dari mulut para anak jalanan dari rumah belajar Cimindi saat tampil di helatan mingguan Pandiga Music Creative Jum’at (31/5) malam tadi.
Delapan anak jalanan itu tampil membawakan sejumlah lagu karya Fajar Perdana, kakak asuh anak jalanan di rumah belajar Cimindi. Dengan ekpresi polos dan apa adanya, mereka menyauarakan nasibnya yang tergerus kehidupan kota, karena berbagai sebab, sehingga turun ke jalan untuk bertahan hidup. “Ada Sembilan anak jalanan di rubel Cimindi, kami bersama teman-teman mahasiswa mencoba membimbing mereka untuk belajar membaca menulis dan berhitung,” ujar Fajar usai tampil membawakan tiga lagu karyanya malam tadi.
Dikatakannya, selain calistung, anak-anak itu dua kali seminggu diberi tambahan belajar membuat kerajinan dari bekas plastik sedotan dan mengaji dengan cara Iqro. Pada umumunya semanagat belajar mereka tetap ada, namun karena keadaanlah yang memaksa turun ke jalan untuk mempertahankan hidup, meski hanya cukup buat makan.
Ada cerita pahit yang didapatkan anak-anak ini. Jum’at (5 April) lalu, seperti yang ditulis Fajar dalam blognya. “ saya dimarahi oleh bapak-bapak yang sering sholat di masjid dekat Rubel. Ini kedua kalinya. Sebelumnya saya juga pernah dimarahi oleh ibu-ibu yang rumahnya di samping masjid. Saya dimarahi karena membawa anak-anak Rubel untuk sholat di masjid tersebut. Katanya baju yang dipakai anak-anak itu mengandung najis. Katanya anak-anak itu sholatnya tidak akan sah. Katanya kalau anak-anak itu masuk masjid, akan mengotori kesucian masjid. Dan jika najis yang ada di pakaian anak-anak menempel di karpet, maka bapak-bapak dan ibu-ibu itu khawatir sholat mereka jadi tidak sah juga,”,katanya.
Dia mengaku sedih sekaligus sedikit marah mendengar kata-kata yang beliau ucapkan dengan nada tinggi tersebut, tapi sama sekali tidak ingin mendebat ceramahnya. Saya tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ke depannya, apalagi jika berdebat dalam kondisi emosi. Bentrok antara Rubel dengan warga sekitar di Rubel Cimahi dulu cukup mengajari saya tentang pandangan masyarakat terhadap kami, dan saya tidak mau hal yang sama terjadi di Cimindi. Saya hanya membatin. Mungkin mereka tidak mengerti bahwa kami, kakak-kakak di Rubel, hanya ingin mengajari anak-anak jalanan itu mencintai Allah dengan membiasakan sholat walau hanya 3 kali seminggu, itupun hanya di waktu maghrib saja. Mungkin mereka tidak mengerti betapa sulitnya mengajak anak-anak itu untuk sekedar meluangkan waktu sekian menit untuk sholat, dan betapa menyenangkannya bagi kami ketika mereka sudah mulai mau sholat, walau hanya dengan iming-iming beberapa potong gorengan sebagai rewardnya. Mereka tidak akan mengerti.











