Ah, mungkin saya yang memang tak mengerti ilmu fiqih. Saya yang terlalu naif berpandangan bahwa keberadaan anak-anak jalanan untuk sholat di dalam masjid tersebut tidak akan membuat masjid menjadi najis. Lagipula kami selalu mencuci kaki dan berwudhu dengan sebersih mungkin sebelum masuk masjid. Kecuali kalau memang karpet masjid tersebut berubah bau-nya setelah kami masuki, atau jelas terlihat kotoran yang tertinggal di dalam masjid. Ah, siapalah saya berbicara agama di hadapan ‘orang-orang suci’ itu.
Saya jadi ingat mereka: Muhammad SAW dengan sabdanya bahwa “orang yang mencintai anak-anak yatim akan berada di surga bersamanya sedekat jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan”. Dia yang memposisikan seorang hamba sahaya berkulit hitam (Bilal bin Rabah) setara di hadapan bangsawan-bangsawan Arab saat itu, bahkan lebih mulia dengan posisi muadzin yang diberikannya.Begitu juga kelembutan hati Jesus (Isa Al-Masih) yang begitu mengasihi orang-orang miskin di sekitarnya. Atau Musa ‘Alaihissalam yang memimpin budak-budak Yahudi di Mesir memberontak terhadap kekuasaan diktator Fir’aun yang zhalim. Bahkan Sidharta Gautama, titik awal pencerahannya dimulai dengan melihat kenyataan di luar istananya yang penuh kemiskinan, penderitaan,.











