“Saya masih ingin berharap para agamis penerus ajaran tokoh-tokoh tersebut memiliki semangat yang sama dengan teladan mereka. Bukan saja semangat untuk menumpuk-numpuk pahala pribadi dengan ibadah-ibadah vertikal (habluminallah), namun juga ikut terlibat dalam perubahan sosial di masyarakat. Dan menurut saya memberikan pakaian yang layak untuk anak-anak itu adalah tindakan yang lebih bijak untuk menjauhkan masjid dari najis, daripada mengusir anak-anak dari masjid yang mungkin saja berakibat psikologis pada anak-anak tersebut,” imbuhnya.
Kepada BEDAnews.com, Chevi, 12 tahun mengaku dia mendapatkan uang antara Rp. 10 ribu sampai Rp. 15 ribu sehari untuk makan dan biaya sekolah adiknya. Warga Cimindi Kelurahan Cibeuruem Kota cimahi ini mengaku hanya bisa sekolah hingga kelas 3 SD saja, dan putus sekolah akibat harus menghidupi dirinya dan adiknya .”Aku keluar rumah sekitar pukul 12.00 lalu ngamen dengan alat terbuat dari bekas tutup botol, jika malam pulang ke rubel yang gak jauh dari rumah,” katanya.
Hal yang sama disampaikan Dani Ramdani 17 tahun. Setiap hari untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari dia terpaksa harus mengamen di jalanan, dengan penghasilan maksimal Rp 15 ribu sehari, bagi Dani cukup untuk menutupi kebutuhan makannya sehari-hari. (Bubun M)











