Dari situ saya menangkap satu hal penting: di tengah kesibukan yang padat, tanggung jawab organisasi, tekanan profesi, dan dinamika dunia pers yang tak pernah sepi, masih ada kesadaran untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan menjaga hubungan dengan Tuhan.
Bagi saya, itu bukan hal kecil. Justru di situlah letak maknanya. Sebagai pemimpin organisasi profesi wartawan terbesar, Ketua PWI tidak hanya diuji oleh kecakapan manajerial atau keluwesan berkomunikasi, tetapi juga oleh keteguhan karakter.
Masjid—atau rumah ibadah bagi pemeluk agama apa pun—adalah salah satu ruang paling jujur dalam membentuk karakter itu.
Di sana, semua atribut duniawi ditanggalkan. Jabatan, pengaruh, dan status sosial luruh dalam satu barisan yang sama.
*Keseimbangan Kepemimpinan*













