Hal senada diulas secara tajam oleh Frode F. Jacobsen dalam bukunya Hadrami Arabs in Present-Day Indonesia: An Indonesia-Oriented Group with an Arab Identity terbitan Routledge, London (2009, hlm. 45). Jacobsen mengamati bahwa prestise spiritual yang melekat pada habaib berpadu secara harmonis dengan struktur kepemimpinan pesantren di Jawa, sehingga menciptakan legitimasi ganda yang amat sulit digoyahkan oleh dinamika politik praktis.
Perspektif kritis dari Timur Tengah juga memberikan sudut pandang serupa. Ahmad Purqon dalam bukunya al-Asanid al-‘Aliyah fi al-Fiqh wa al-Tasawwuf terbitan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut (2012, hlm. 78), menjelaskan bagaimana transmisi keilmuan dan hubungan besan antara ulama pribumi dan habaib telah membentuk matarantai (silsilah) kultural yang memperkuat tradisi keagamaan inklusif. Bahkan, ilmuwan Jerman Ulrike Freitag dalam buku karya bersama Achim von Oppen berjudul Translocality: The Study of Globalising Processes from a Southern Perspective yang diterbitkan Brill, Leiden (2010, hlm. 115), menyebutkan bahwa kelentingan (resilience) jaringan Hadhrami di Asia Tenggara bertahan karena fleksibilitas adaptasi budaya tanpa kehilangan identitas asalnya.













