Karena itu, para pejabat publik maupun elite politik diharapkan lebih berhati-hati dalam menggunakan narasi agama, terlebih jika dikaitkan dengan kepentingan politik praktis seperti perolehan kursi atau dukungan elektoral.
Muslim Arbi menegaskan bahwa, politik seharusnya tidak mencampurkan hal-hal sakral dalam agama dengan kepentingan kekuasaan.
“Agama memiliki wilayah sakral yang harus dihormati. Ketika hal-hal suci dipakai sebagai bahan kelakar politik, maka wajar jika publik bereaksi,” pungkasnya. (Red).
Page 6 of 6













