Yang paling mengkhawatirkan saya bukan hanya dilema energi, tapi dampaknya terhadap solidaritas ASEAN.
ASEAN dibangun di atas fondasi kebersamaan dan konsensus. Tapi dalam krisis ini, saya lihat potensi perpecahan nyata. Filipina dan Thailand cenderung ke AS. Indonesia dan Malaysia mencoba jalur mandiri. Vietnam, dengan pengalaman historisnya, tetap hati-hati.
Jika setiap anggota ASEAN ambil jalur sendiri tanpa koordinasi, dua hal terjadi: Pertama, kekuatan tawar ASEAN di kancah internasional melemah. Kedua, ASEAN kehilangan relevansinya sebagai poros stabilitas kawasan.
Saya ingat pengalaman di PBB (2017–2019). Di forum global, Indonesia selalu memainkan peran sebagai jembatan. Kita disegani karena konsisten, moderat, dan tidak mudah diombang-ambingkan. Tapi dalam krisis energi akut ini, menjadi “jembatan” berarti tidak punya posisi tegas. Dan dalam situasi seperti ini, ketidaktegasan adalah kelemahan.













