Namun negara seolah tidak peduli nasib rakyatnya. Demi meraih keuntungan sebesar-besarnya, dan demi melayani para pengusaha (cukong), negara pun rela melabrak rambu-rambu aturan agamanya. Sekali lagi aturan manusia telah mengikatnya. Sehingga aturan Allah berani dilanggar. Dengan menjauhkan semua aturan-Nya dari kehidupan.
Ditambah dengan paham liberalisme yang menjadi standar kebebasan dalam membuat kebijakan oleh penguasa. Hingga mereka bebas berbuat sewenang-wenang dengan mengeluarkan kebijakan yang timpang. Menguntungkan bagi yang di atas, merugikan bagi yang di bawahnya yakni rakyat yang menderita.
Itulah watak demokrasi kapitalisme yang menjerat negeri ini. Penguasa rela mengorbankan kebutuhan rakyatnya demi keuntungan yang mereka dapatkan dari para pengusaha atau pemilik modal.













