Untuk itu pihaknya bersama Gabungan Pengusaha Tahu dan Tempe Indonesia (Gapoktindo) mendesak agar Kementrian Perdagangan RI untuk memanggil para importir, meminta agar harga kedelai tidak lebih dari Rp 10.500 per kilo.
Akibat dampak dari tingginya harga kedelai para perajin tahu tempe ada yang berproduksi ada juga yang berhenti. Ada yang tetap berproduksi tapi dengan mengurangi ukuran tahu tempe menjadi lebih kecil dari ukuran sebelumnya.
Dilihat dari faktanya tahu tempe itu ibarat makanan pokok orang Indonesia selain beras atau jagung, disetiap kesempatan tentu akan dijumpai tahu dan tempe. Karena tahu tempe adalah sumber protein yang dibilang murah dan terjangakau bagi rakyat Indonesia. Apalagi di masa pandemi ini, masyarakat banyak mengalami kesusahan, jadi untuk mencari sumber protein yang mudah dan murah lebih memilih tahu tempe daripada daging yang terbilang mahal bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah.












