Perilaku cerdas tapi licik, perilaku tak pandai terima kasih, haus akan kekuasaan, penghianat kawan seiring, menghalalkan segala cara sering dikaitkan dengan tipikal personaliti politik ala Sengkuni, sosok Sengkuni representasi perilaku politik yang tak ber etika dan bermartabat sebagaimana banyak dimainkan oleh para politisi di negeri nusantara kerajaan era Astina dalam kisah Mahabarata kalau tak mau disebut negeri Indonesia. Kisah kudeta Sengkuni yang mau jadi Patih kerajaan Astina tanpa harus berkeringat atau mendirikan partai di kerajaan Astina adalah perilaku tak beretika dan sungguh bermoral rendah.
Tujuan untuk berkuasa atau jadi raja sah saja dalam kondisi normal melalui proses demokrasi dan presedur konstitusi dan perjuangan yang benar. tapi perilaku ala Sengkuni yang licik dan lihai memainkan propaganda dan mengintip peluang dalam kesempitan menjadi perilaku patologis yang pandai mempaaatkan jabatan sebagai kesempatan dalam kesempitan.













