Oleh: M.R. Mualimin
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Kabar itu datang bagai petir di siang bolong, menembus jarak ribuan kilometer dari belahan bumi utara. Fathan Subchi—Anggota VI Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia—mangkat di salah satu rumah sakit di Moskow, Rusia. Sebagai sahabat yang mendampingi dan mencatat rekam jejak perjuangannya dari dekat, warta duka ini bukan sekadar hilangnya seorang pejabat negara, melainkan padamnya salah satu lentera kebaikan dan keteladanan yang hidup nyata di tengah kita.
Saya mengenalnya bukan sekadar dari panggung kekuasaan atau meja diplomasi formal, melainkan dari detak napas perjuangan rakyat kecil yang senantiasa ia bela. Dalam catatan sejarah personal saya, Fathan adalah sosok yang mengawinkan keluwesan berorganisasi dengan ketajaman nurani. Sepak terjangnya di parlemen hingga amanah terakhirnya di BPK VI mencerminkan konsistensi menjaga akuntabilitas keuangan negara tanpa pernah kehilangan kehangatan humanis.
Jaringan pergaulannya membentang luas—dari kiai pesantren di pelosok desa, kaum muda pergerakan, hingga pejabat elit kenegaraan. Namun, kekuatannya justru terletak pada kesederhanaan. Ia paham betul bahwa audit keuangan negara bukan sekadar hitungan angka di atas kertas, melainkan wujud pertanggungjawaban moral atas keringat rakyat. Meminjam analisis kritis Yudi Latif dalam Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualisasi Pancasila (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2011, hlm. 482), kepemimpinan yang berakar kuat adalah kepemimpinan yang mampu menyatukan nilai etika kebajikan dengan tata kelola publik. Fathan melakoninya dengan sangat tenang dan bersahaja.
Kepergiannya di Moskow menghentakkan kesadaran kita tentang kerapuhan sekaligus keabadian sebuah warisan perjuangan. Di tengah sinisme publik terhadap elit politik, Fathan membuktikan bahwa integritas dan empati bisa berjalan beriringan. Rekam jejak keteladanannya menunjukkan bahwa komitmen pada transparansi dapat dihadirkan melalui jalinan komunikasi yang merakyat dan terbuka. Sebagaimana dicatat oleh Miriam Budiardjo dalam Dasar-Dasar Ilmu Politik (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, hlm. 312), artikulasi kepentingan politik yang sehat selalu membutuhkan pilar keagamaan dan kemanusiaan yang kokoh agar tidak tergelincir menjadi sekadar perebutan kekuasaan pragmatis.
Kini, langkah kaki sahabat saya itu telah terhenti di rantau jauh. Namun, jejak kebaikan, persahabatan yang tulus, serta dedikasinya untuk tata kelola negara yang bersih akan terus hidup dalam ingatan kolektif kita. Selamat jalan, Mas Fathan. Catatan sejarah ini adalah saksi bisu atas setiap keringat dan kebaikan yang telah engkau wakafkan untuk ibu pertiwi.***
Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.













