Sudah saatnya kita membongkar cara kerja mitigasi bencana yang selama ini terkesan formalitas semata. Pertama, kebijakan penataan ruang harus benar-benar ditegakkan tanpa kompromi politik. Wilayah yang rawan bencana tidak boleh lagi dikorbankan demi investasi jangka pendek. Kedua, edukasi bencana harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar simulasi tahunan yang kaku. Masyarakat di garis terdepan harus dibekali pengetahuan dan teknologi sederhana untuk merespons ancaman secara mandiri.
Kita tidak punya banyak waktu. Krisis iklim terus berjalan tanpa menunggu kita siap. Jika pemerintah dan masyarakat terus bermain-main dengan isu lingkungan, kita hanya sedang menanti giliran untuk tenggelam bersama kelalaian kita sendiri.***













