Namun, di sepuluh malam terakhir Ramadan, video ini bukan sekadar konten, namun berubah menjadi ‘titik kumpul’ malaikat-malaikat digital. Tanpa komando resmi, para netizen yang mayoritas adalah anak muda mulai bergerak. Mereka tidak lagi hanya mengirimkan doa di kolom komentar, tapi secara agresif mencari nomor rekening atau tautan donasi. Dalam hitungan jam, dana terkumpul berlipat-lipat melampaui hasil kerja sang bapak setahun penuh. Dan menjadi model baru manifestasi modern dari Lailatul Qadr. Malam yang lebih baik dari seribu bulan tidak lagi hanya dicari di sela-sela tiang masjid, tapi juga di sela-sela algoritma media sosial. Ketika seorang pemuda di kamar kosnya mengklik tombol ‘Donasi Sekarang’ untuk bapak tersebut di pukul 02.00 pagi, seketika pemuda tersebut sedang melakukan transaksi dengan langit dan membuktikan bahwa spiritualitas sejati adalah ketika doa yang melangit bertemu dengan empati yang membumi. Ada jejak digital dari kebaikan yang ditinggalkan, dan memastikan bahwa di setiap malam berpotensi menjadi Lailatul Qadr, ada ‘jejak digital’ kebaikan yang tercatat, dimana jarak antara niat dan aksi hanya terpaut beberapa detik, menjadi efisiensi spiritual yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya.













