Oleh: Lilis Sulastri
Di bawah pendar lampu masjid yang mulai meredup saat jam menunjukkan pukul 02.15 pagi jelang sahur. Seorang pemuda tidak lagi hanya memegang tasbih kayu. Di tangannya, sebuah smartphone dengan layar yang diredupkan menjadi jendela menuju tafsir digital. Di sudut lain, seorang mahasiswi sedang asyik dengan aplikasi Notion nya, bukan untuk mengerjakan tugas kuliah, melainkan menyusun prayer list yang terstruktur rapi.
Fenomena ini bukan tanda pudarnya kesalehan, melainkan sebuah evolusi spiritualitas yang orisinil dari generasi yang paling akrab dengan teknologi. Data tren perilaku digital dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan lonjakan pencarian kata kunci terkait ‘Digital Detox’ dan ‘Focus Apps’ hingga 40% di kalangan Generasi Z selama sepuluh malam terakhir Ramadan. Riset tersebut mengonfirmasi satu hal, bahwa bagi generasi digital native, tantangan terbesar menjemput Lailatul Qadr bukan lagi soal menahan kantuk, melainkan menavigasi fokus di tengah kebisingan algoritma duniawi. Menjadi awal mula lahirnya sebuah gerakan yang sekarang kita kenal sebagai I’tikaf Lowkey dan Filantropi Algoritma.













