Krisis Ekologi sebagai Krisis Etika
Era kehidupan modern yang ditandai dengan berbagai krisis seperti krisis iklim, krisis pangan, krisis air, dan bencana ekologis yang berulang bukan hanya kegagalan teknis atau administratif saja namun lebih dalam lagi dianggap sebagai kegagalan etika peradaban.
Dunia terlalu lama bergerak tanpa prinsip keibuan, kehati-hatian, empati, dan tanggung jawab lintas generasi.
Al-Qur’an mengingatkan secara tegas:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini bukan hanya peringatan ekologis, tetapi juga kritik moral. Kerusakan alam menjadi cermin dari rusaknya relasi etis manusia dengan bumi. Dalam perspektif ekoteologi Islam, manusia bukan pemilik mutlak alam, melainkan khalifah sebagai penjaga dan perawat. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 30)
Menjadi khalifah berarti merawat, bukan menjarah. Dan nilai keibuan menemukan relevansinya yakni merawat kehidupan dengan kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral.













