Oleh : Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN SGD Bandung)
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi jargon pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan inovasi teknologi, ada satu nilai paling mendasar yang perlahan menghilang dari kesadaran kolektif manusia, adalah etika merawat.
Ketika dunia modern dibangun atas logika
Menaklukan alam, menaklukkan waktu, dan sering kali menaklukkan manusia itu sendiri. Bumi dieksploitasi tanpa jeda, sementara ibu sebagai simbol dan aktor utama perawatan kehidupan direduksi menjadi peran domestik yang kerap dianggap tidak produktif.
Dan jika peradaban manusia masih bertahan hingga hari ini, bukan semata karena kecanggihan teknologi atau kekuatan modal saja, melainkan karena ada kerja di ruang sunyi yang menjaga kehidupan tetap berlanjut. Kerja itu bernama keibuan.













