Ibu dan Mother Earth
Hampir di semua peradaban besar dunia, bumi dipersonifikasikan sebagai Mother Earth yang melahirkan, memberi makan, menopang kehidupan, dan memulihkan diri, bahkan setelah dilukai berulang kali. Ibu melakukan hal yang sama yakni mengandung, melahirkan, merawat, mendidik, dan sering kali mengorbankan dirinya demi keberlangsungan generasi berikutnya.
Namun ironi peradaban modern terjadi saat ini, kita memuliakan metafora Mother Earth dalam pidato dan seremoni, tetapi mengeksploitasinya dalam kebijakan dan praktik pembangunan. Kita memuji ibu dalam perayaan Hari Ibu, tetapi mengabaikan nilai-nilai keibuan dalam sistem ekonomi, politik, dan tata kelola lingkungan.
Vandana Shiva, filsuf dan aktivis lingkungan, menyebut bahwa krisis ekologi modern lahir dari cara pandang yang memisahkan manusia dari alam dan mereduksi alam sebagai objek eksploitasi. Cara pandang ini sejalan dengan marginalisasi perempuan dan ibu dalam struktur kekuasaan global. Eksploitasi bumi dan pelemahan peran ibu berasal dari akar yang sama yaitu logika ekstraktif yang mengabaikan keberlanjutan.













