IKHF dibangun di atas lima komponen utama, yaitu peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), perluasan basis perpajakan, peningkatan dividen BUMN, penguatan devisa melalui ekspor produk bernilai tambah, serta efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian nasional. Dengan demikian, hilirisasi tidak lagi dipandang hanya sebagai proyek pembangunan smelter, tetapi sebagai mekanisme untuk memperbesar kemampuan negara membiayai pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan berbagai program kesejahteraan.
Lebih jauh lagi, IKHF dapat menjadi alat untuk menilai apakah pengelolaan sumber daya alam benar-benar telah mengurangi praktik ekonomi rente. Semakin besar kontribusi hilirisasi terhadap penerimaan negara dan semakin luas nilai tambah yang tercipta di dalam negeri, semakin kecil ruang bagi praktik yang hanya mengandalkan penguasaan konsesi dan ekspor bahan mentah. Dalam konteks inilah hilirisasi dapat dipahami sebagai bagian dari reformasi kelembagaan yang memperkuat kapasitas negara sekaligus mengurangi dominasi struktur ekonomi yang bertumpu pada rente sumber daya alam.













